www.Laskarmedia.com, Gunungsitoli — BPP-PKN dibawah kepemimpinan Mayjend TNI (P), Drs. Christian Zebua, M.M telah bekerja penuh dan berhasil mengantarkan Calon Provinsi Kepulauan Nias ke Sidang Paripurna DPR-RI, tegas Drs. Arisman Zagoto anggota DPR-RI Periode 2004-2007 di Bandara Binaka Gunungsitoli saat ditemui Wartawan di ruang kedatangan hari Rabu, 23/5/2023.
Arisman Zagoto menguraikan beberapa hal yang telah dicapai oleh BPP-PKN :
- Sosialisasi dan menggalang dukungan Forkada.
- Memenuhi syarat Politik, sosial dan Ekonomi dengan score masing-masing 120 point.
- Melobi Kemendagri dan mendatangkan DPOD
- Menetapkan pertapakan Calon Ibukota Provinsi
- Mendapatkan rekomendasi DPRD Provinsi Sumatera Utara
- Melobi DPR-RI , DPD-RI dan Kemenkeu RI.
Keseluruhan itu BPP-PKN dibawah Kepemimpinan Christian Zebua sudah bekerja penuh hingga mengantarkan Calon Provinsi Kepulauan Nias ke sidang Paripurna DPR-RI.
Sayang, tertundanya karena ada friksi dilapangan malam itu dari Papua sehingga Pimpinan Rapat dari Golkar Bp. Ginanjar mengetok palu sidang untuk menunda penetapan yang akan dikerjakan oleh DPR periode berikutnya. Tetapi keburu dihadang oleh Moratorium.
Pasca keputusan ditunda hingga sekarang hampir 10 tahun. Tokoh masyarakat Nias diharapkan bersatu berjuang bersama.
Dengan sistem buttom-up sudah tidak mungkin dengan adanya moratorium maka kemungkinannya adalah Top-Down dengan alasan khusus, contonya Tulisan Pak Komarudin Komisi 2 DPRRI tentang Posisi Geografis Kepulauan Nias dalam strategis Keamanan Nasional.
Untuk menindak lanjuti Upaya Top-Down diperlukam Pakar Strategi Nasional putra Nias Mayjend TNI (P) Drs. Christian Zebua, M.M yang sekaligus punya link garis Komando dengan Menteri Pertahanan RI, Menkomaritim dan Jaringan Pertahanan lainnya.
Uraian saya diatas bukan dimaksud untuk mempertahankan kepemimpinan di BPP-PKN karena bukan itu masalahnya, tetapi jauh lebih penting adalah mempertahankan cita-cita terwujudnya Provinsi Kepulauan Nias untuk perubahan kehidupan yang lebih baik disemua aspek yang akan diwariskan pada generasi mendatang. Tegas Arisman mengakhiri pembicaraan. (LM-001)

















