Polisi Diminta Lakukan Pemeriksaan Lanjutan Terhadap Anak Korban Pencabulan

Berita, Hukrim716 Dilihat

Laskarmedia.com, Gunungsitoli--Penyidik Polisi Resor Nias diminta untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap anak korban pencabulan YN alias L (17).

Selain YN alias L, Polisi juga diminta memeriksa ulang orang tua korban dan saksi dengan didampingi kuasa hukum yang ditunjuk keluarga korban.

Permintaan pengambilan Berita Acara Pemeriksaan (Bap) lanjutan terhadap korban, orang tua dan saksi disampaikan Tim Advokat Pembela dan Pencari Keadilan (TAP2K) kepada Kasat Reskrim Polres Nias Akp.Iskandar Ginting di ruang kerjanya di Mapolres Nias, Jum’at 26 November 2021.

“Menurut kami ada sedikit yang berbeda dengan pengakuan korban, terutama pengakuan siapa pelaku yang mencabuli dirinya hingga hamil,” ungkap anggota TAP2K Itamari Lase, SH, MH kepada Kasat Reskrim.

YN alias L mengaku kepada TAP2K, pelaku cabul terhadap dia bukan adik kandungnya SN alias S (15) yang kini ditahan, melainkan AW sesuai laporan orang tuanya.

Korban memberitahu dia dicabuli AW di kamar mandi yang ada di belakang rumah AW, dimana korban dan keluarganya selama ini menumpang mandi.

Namun, dinding penyekat kamar mandi tersebut menurut Itamari Lase kini telah dibongkar oleh AW, sehingga tindakan AW menjadi sebuah tanda tanya bagi TAP2K.

“Untuk mengungkap kebenaran dalam kasus ini sesuai keinginan korban dan keluarganya, kami meminta dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap korban, keluarga dan saksi saksi,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, anggota TAP2K Selcrist Harefa, SH meberitahu jika kedarangan TAP2K adalah untuk melengkapi kuasa yang diberikan keluarga korban kepada mereka.

Selcrist juga berharap dilakukan pengambilan berita acara pemeriksaan (Bap) lanjutan, karena korban mengaku kepada TAP2K pelakunya bukan adik kandungnya SN alias S, tetapi AW.

“Karena kamar mandi atau tempat kejadian perkara (Tkp) sudah dihancurkan AW, kita berharap Polisi dan TAP2K bersama sama meninjau lokasi kejadian perkara,” harapnya.

Menanggapi permintaan TAP2K, Kasat Reskrim yang didampingi Kanit PPA Polres Nias menyambut baik kedatangan TAP2K, dan menganggap bahwa permintaan TAP2K adalah hal yang lumrah.

“Saya baru pindah disini, dan saya hanya menerima berkas yang sudah jadi, sehingga menurut saya permintaan TAP2K sah sah saja dan akan kita penuhi untuk mengungkap kasus ini,” tuturnya.

Dia juga menerangkan telah berkoordinasi dengan tim labfor Polri di Medan untuk melakukan tes DNA terhadap janin yang ada di rahim korban, tetapi tim labfor menyarankan tes DNA dilakukan setelah bayi lahir.

“Jika kita melakukan tes DNA saat bayi belum lahir, ada tiga kemungkinan resiko yang terjadi kepada bayi, yaitu bayi nanti bisa mati dalam kandungan, lahir dalam keadaan cacat atau lahir dalam keadaan meninggal,” jelasnya.(iM-140)

 

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *