Rendahnya Kualitas Pendidikan Berdampak Pada SDM Kita

Opini, Pendidikan359 Dilihat


Catatan : Muhammad Sontang Sihotang
(Ka. Biro Langkat dan Binjai)
Laskarmedia.com, Medan
— Menurut Bank Dunia (2018), kualitas pendidikan Indonesia masih rendah. Laporan Bank Dunia tahun 2018 juga menunjukkan bahwa skor Human Capital Index (HCI) Indonesia menempati peringkat 87 dari 157 negara, di bawah Singapura (peringkat 1), Vietnam (peringkat 48) dan Malaysia (peringkat 55).

Oleh karena itu, Indonesia harus memahami pentingnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu kunci Indonesia menjadi negara dengan tingkat penghasilan tinggi.
Human capital adalah landasan untuk kesejahteraan dan kunci penggerak high-income growth (Sri Mulyani 2021).
Selain itu, Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani mengatakan skor Program Penilaian Pelajar Internasional atau biasa disebut PISA menurun.
Artinya, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia belum optimal. Sejak keikutsertaannya di tahun 2001, skor PISA Indonesia belum mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Bahkan sekitar 52 % dari pelajar Indonesia yang menjadi sampel PISA 2018 berada dalam kategori low performer pada tiga subjek, Literasi, Matematika dan Sains.
Jauh lebih rendah dibandingkan dengan capaian negara-negara tetangga. Belum optimalnya performa belajar Indonesia menurut Standar Internasional tersebut tidak terlepas dari Profesionalisme dan Kompetensi tenaga pendidik sebagai pilar utama dalam peningkatan kualitas pelajar (https://www.cnbcindonesia.com/news/20200701184938-4-169544/kualitas-sdm-ri-belum-optimal-nih-mas-nadiem).

Berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, diketahui sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang di ambil tidak sesuai dengan minatnya.
Dan 71,7 persen pekerja, memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya (https://republika.co.id/berita/pmjuhw368/87-persen-maha siswa-mengaku-salah-pilih-jurusan).

Ada banyak faktor mahasiswa berkuliah tidak sesuai dengan minat & bakat .
Hampir 50,55 persen faktor eksternal calon mahasiswa, misalnya karena dorongan orang tua, ikut teman atau bahkan di anggap mudah mencari pekerjaan.
Hal itu terjadi akibat dari ketidaktahuan dan ketidakmengertian mereka akan minat dan bakatnya, mereka memutuskan program pendidikan pilihannya hanya berdasarkan rekomendasi dari teman atau orang tuanya.

Oleh karena itu, pelajar yang salah memilih jurusan kuliah akan berdampak pada ketidakmaksimalan dalam pekerjaan atau profesi yang akan digelutinya.

Sehingga orang tersebut tidak dapat berprestasi dan berkemampuan maupun berketerampilan yang dimiliki dan tidak berkembang dengan baik.

Jika seseorang bekerja pada bidang yang diminati atau disukai, pastinya akan lebih mencintai dan bahagia dalam menjalankan pekerjaannya.

Dampak selanjutnya, yang bersangkutan akan bekerja lebih giat dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi (https://www.inews.id/news/nasional/survei-87-persen-mahasiswa-di-indonesia-salah-jurusan ).

Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2017 pernah melaporkan bahwa 60 persen pekerja Indonesia memiliki pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Produktivitas tenaga kerja di Indonesia selama ini masih dianggap cukup rendah dibandingkan dengan negara lain di sekitar Asia Tenggara (ASEAN) (https://www.ugm.ac.id/id/berita/17724-kemampuan-kerja-kaum-muda-perlu-ditingkatkan).

Belum lagi ditambah ketidakcocokan keterampilan yang didapat dari pendidikan dengan kebutuhan kerja dunia industri.

Beberapa pengamat ekonomi menilai hal itu ditengarai karena terjadinya ketidaksesuaian Kurikulum Pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja industri.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Prof. Dr. Ir. Nizam mengungkapkan, membangun pendidikan tinggi h…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *