Masalah Sengketa Warisan, Cucu Gugat Nenek di Pengadilan Agama

Berita909 Dilihat

Laskarmedia.com, Medan–Norma (85), warga Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, Sumut, sedang berjuang melawan gugatan yang diajukan cucunya, di Pengadilan Agama, Jalan Sultan Hasanuddin, Binjai.

Adapun gugatan dilayangkan oleh Fadli di Pengadilan Agama, dengan Nomor: 557 tertanggal 5 Oktober 2021. Dalam kasus ini, Fadli menggugat Norma karena harta warisan.

Sidang mediasi pertama dipimpin Ketua Majelis Hakim Helmilawati didampingi dua Hakim Anggota Fatna Khaelida dan Makky, Selasa (12/10/2021).

Kuasa Hukum Tergugat Yusfansyah Dodi mengatakan, kliennya merasa keberatan lantaran penggugat dianggap bukan ahli waris yang sah. Pasalnya, penggugat tidak berstatus anak kandung melainkan anak adopsi dari pasangan suami-istri Almarhum Taufik dan Almarhumah Efriwati yang merupakan menantu dan anak dari tergugat.

“Jelas sekali di sini bahwa si penggugat itu bukan nasaf waris dari Almarhum Efriwati atau anak dari klien kami,” katanya, melalui sambungan telepon kepada pers, Rabu (13/10/2021).

Dia mengatakan, berdasarkan bukti-bukti lain, seperti akte kelahiran, ijazah sekolah dilampirkan penggugat hanyalah sebagai kelengkapan administrasi kependudukan, bukan menyatakan sebagai anak kandung Almarhum Taufik dan Almarhumah Efriwati.

“Memang secara administrasi kependudukan, dia (penggugat) benar. Tapi secara biologis, dia salah. Karena statusnya bukan anak kandung. Bahkan tidak ada surat wasiat, surat hibah, atau sejenisnya, yang menguatkan statusnya sebagai ahli waris,” ucapnya.

Sementara itu, Norma tidak menyangka cucu yang diadopsinya justru menggugat dia ke pengadilan agama dan menyengketakan hak waris atas harta peninggalan dari almarhumah anaknya Efriwati.

“Begitu tahu digugat, ya saya berontak. Sempat juga saya bertengkar. Sebab dia (Fadli) minta rumah dan usaha apotek. Karena emosi, saya bilang saja itu rumah dan usaha anak saya. Sebab dia itu ‘kan bukan anak kandung dari anak saya,” ujar Norma.

Kuasa Hukum Penggugat, Hafiz Zuhdi mengaku heran dengan penolakan gugatan oleh pihak tergugat, sebab kliennya Fadli memiliki data kependudukan otentik yang menguatkan statusnya sebagai anak biologis dari pasangan Almarhum Taufik dan Almarhumah Efriwati.

“Menolak bagaimana? Toh kami punya data otentik, bahwa status klien kami itu anak kandung. Ini dibuktikan dari akta kelahiran dan ijazah. Bahkan pada Februari 2013 lalu, ada terbit surat keterangan ahli waris dari camat yang ditandatangani ibunya Efriwati sebelum dia meninggal,” katanya.

Sebaliknya, Hafiz menilai ada intervensi pihak-pihak tertentu, khususnya dari anak dan menantu tergugat yang berupaya mempengaruhi pikirannya, sehingga hal ini yang membuat sengketa hak waris semakin serius dan meluas. Sejauh ini belum ada titik temu. (LM-009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *