KAIJO”, Ritual Sakti Etnis Mbay Dalam Menyingkirkan Hama Penyakit

Berita122 Dilihat

Laskarmedia.com,Mbay-Kaijo merupakan satu-satunya ritual adat yang dimiliki oleh etnis Mbay untuk tujuan tertentu yakni mengusir semua penyakit yang mengganggu tanaman maupun wabah penyakit lainnya. Dalam gelaran seremonialnya, Kaijo berisikan nyanyian bersahutan berupa pantun serta tarian yang dilakukan selama 5 malam berturut–turut. 

Ritual adat kaijo ini diyakini masyarakat adat Mbay memiliki kekuatan magis religius yang dapat menyelamatkan semua jenis tanaman pangan dari amukan hama penyakit. Hal ini telah dibuktikan dari zaman ke zaman  hingga diwariskan secara turun temurun sampai saat ini. 

Tujuan lain dari Kaijo selain menyelamatkan hasil panen untuk ketahanan pangan, secara universal juga mampu menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan hidup. 

“Secara historis yang dikisahkan turun temurun oleh para pendahulu kita, bahwa Kaijo lahir sebagai sarana untuk menangkal berbagai macam wabah penyakit yang menyerang tanaman pertanian maupun tanaman perkebunan. Sehingga, dalam permenungan panjang, para leluhur mendapat petunjuk atau dalam bahasa Mbay dengan istilah (Toing Not), bahwa satu-satunya cara yang bisa menghentikan semua serangan hama penyakit tanaman yakni Kaijo”.kisah Muhayan Amir salah satu tokoh adat Mbay. 

Sebelumnya, lanjut Muhayan Amir, masyarakat adat Mbay merespon berbagai hama penyakit yang menyerang tanaman dengan cara-cara yang sangat emosional seperti mencaci, menghujat bahkan sampai pada membakar dan memusnahkan tempat-tempat tertentu yang di anggap sebagai tempat berkembang biaknya hama – hama tersebut. 

Ekspresi emosional ini kemudian di lakoni selama ritual Kaijo, namun cara ini tetap tidak menyelesaikan persoalan hama, justru serangan hama semakin masif dan sampai berdampak pada gagal panen dan terjadinya kelaparan dimana – mana. 

Dengan bekal kematangan emosional dan kesadaran berpikir yang tinggi, para pendahulu mampu menemukan sebuah konsep ritual yang lebih bermartabat dalam tata cara pelaksanaan seremoni “KAIJO“. Sebab, pemikiran para leluhur masyarakat adat Mbay ketika itu, memandang hama-hama tersebut merupakan mahluk ciptaan Tuhan dengan tujuan tertentu sehingga hama- hama tersebut tidak boleh di musnahkan dengan dalil apapun. 

Sehingga dalam penerapan konsep ritual Kaijo, para pendahulu berpikir lebih arif dan bijak, agar hama-hama tersebut di tangkap dan di biarkan hidup sampai pada saatnya tiba baru di singkirkan secara hidup-hidup ke tempat asal usulnya yang dimana tempat tersebut di percaya sebagai asal muasal hama. 

ARTI KAIJO

Dalam bahasa Mbay, KAIJO terdiri dari dua suku kata yakni KAIK“dan “JO’O“. Kaik artinya Membiarkan, sementara Jo’o artinya Menghentikan. Kata KAIK dan JO’O kemudian dirangkaikan menjadi satu suku kata menjadi KAIJO

 Dalam tradisi etnis Mbay, sesuai warisan para pendahulu, Kaijo dilaksanakan setiap tahun di Nggolo Mbay. 

TATA CARA MENYINGKIRKAN HAMA PADA RITUAL KAIJO

Metode penyingkiran hama dalam ritual adat Kaijo, mula mula di lakukan dengan cara menangkap berbagai jenis hama tanpa terkecuali dalam keadaan hidup, lalu dimasukan ke dalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu atau dalam istilah bahasa Mbay di sebut “TERU“.

Pada proses ini, semua petani wajib membawah hama – hama yang sudah di masukan dalam TERU-TERU itu dan di gantung di sekeliling NGANDUNG MOLES

NGANDUNG MOLES itu sendiri merupakan sebuah bangunan dengan tingkat kesakralan begitu tinggi, yang terdiri dari susunan batu melingkari pohon (Pu’ung Mondo) yang hidup. Susunan batu dimaknai sebagai simbol persatuan masyarakat adat Mbay, sementara pohon yang hidup dimaknai sebagai simbol pemimpin yang tegas, arif dan bijaksana serta melindungi. 

Setelah semua hama digantung mengelilingi Ngandung Moles,hama – hama tersebut kemudian di ritualkan pada malam kelima Kaijo hingga menjelang terbitnya sang fajar dari ufuk timur. Tepatnya dini hari, sebelum fajar, hama-hama tersebut kemudian di antar (podho nawung) ke tempat asal usulnya yang diyakini masyarakat adat Mbay terletak pada sebuah bukit yang bernama “WEWO INEWESAN”.

Setelah hama- hama tersebut di antar atau di kembalikan ke WEWO INEWESAN, maka rangkaian ritual adat kaijo berakhir. 

Dengan demikian, sudah menjadi keyakinan masyarakat adat Mbay, bahwa setelah semua ritual Kaijo dilaksanakan secara sempurna, maka tidak akan ada lagi hama penyakit yang menyerang tanaman yang berdampak pada gagal panen. 

Terkait ritual Kaijo juga di ceritakan oleh seorang budayawan masyarakat adat Mbay, Abdul Syukur Manetima.

Abdul syukur menjelaskan,Kaijo merupakan upacara tahunan yang biasa dilaksanakan hanya pada musim penghujan atau menjelang musim tanam. Kaijo pada masa leluhur bermakna erat kaitannya dengan hama tanaman.

“Kaijio yang diwarisakan turun – temurun ini hanya dilakukan oleh masyarakat adat Mbay dan penyelenggaraannya di kampung adat Mbay yang disebut Nggolombay. Disana ada Ngandung sebagai simbol pemersatu masyarakat Adat Mbay dan rumah adat yg disebut Rumah Ngandung Moles”papar Syukur Mane Tima. 

 Lanjut Syukur Mane Tima, memang dahulu leluhur masyarakat adat Mbay sangat patuh dengan ketentuan ritual adat kaijo. Kaijo menurut Syukur, selain menyingkirkan hama, juga bisa digunakan dalam meramal cuaca/ curah hujan tahun berjalan. Apakah dimusim tanam tahun berjalan, petani akan memperoleh produksi pertanian baik atau gagal. 

 “Selain menyingkirkan hama, ritual Kaijo juga mampu meramal cuaca panas maupun hujan, yang berdampak pada hasil panen baik atau gagal”.tutup Syukur Mane Tima.(LM/132).