Guru Ngaji di Depok Mengaku Khilaf Cabuli 10 Muridnya

Berita, Peristiwa, Ragam502 Dilihat
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan (tengah), didampingi Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar (kiri), dan Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno (kanan), memimpin ungkap kasus pencabulan terhadap anak, Selasa (14/12/2021).

Laskarmedia.com, Medan–Polisi terus menggali keterangan dari oknum guru ngaji berinisial MMS (52) yang dilaporkan mencabuli sejumlah muridnya di Kota Depok, Jawa Barat. Pelaku berdalih khilaf melakukan perbuatan bejat tersebut.

“Sampai saat ini mengakunya khilaf,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno, saat dikonfirmasi pers, Rabu (15/12/2021).

Yogen mengatakan, selama pemeriksaan, pelaku bisa bersikap kooperatif dan menjawab semua pertanyaan yang diberikan penyidik. “Dilihat secara kasat mata, normal menjawab mengakui segala macam. Saya pikir orang ini normal,” ujarnya.

Yogen mengatakan, pelaku belum sampai memaksa korban untuk berhubungan badan. “Tidak sampai (berhubungan badan), mungkin karena korban masih kecil, jadi tidak sampai disetubuhi,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan, mengatakan, terungkapnya aksi tak manusiawi pelaku berawal ketika satu dari sejumlah korbannya melaporkan perbuatan biadab pelaku kepada orangtuanya.

“Sedikit kronologi singkat terkait terungkapnya adalah bahwa di Desember ini ada salah satu korban menceritakan kejadian (pencabulan) yang dialaminya kepada orangtuanya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan, di Mapolrestro Depok, Selasa (14/12/2021).

“Kemudian orangtua korban ini menceritakan kejadian itu kepada orangtua yang lainnya. Ternyata dari keterangan orangtua lain, anak-anaknya juga menceritakan hal yang sama hingga ada 10 korban yang mengalami tindakan pelecehan dari tersangka,” timpal Endra didampingi Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Imran Edwin Siregar, dan Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno.

Zulpan mengatakan, para korban diajak pelaku ke ruang konsultasi yang ada di Majelis Taklimnya. Di ruang itu, pelaku menyalurkan hasrat bejatnya kepada para korban yang mayoritas berusia 10-15 tahun.

“Jadi ini para murid ini kan murid-murid yang diajarkan mengaji oleh tersangka ya? Adapun waktu ngaji itu jam 17.00 WIB sore sampai selesai Maghrib. Itu ada ruang di Majelis Taklim yang digunakan untuk konsultasi, dan di ruang itulah dilakukan pencabulan itu,” katanya.

“Soal ancaman, anak di bawah usia dapat tekanan serta ancaman, hingga dia takut melawan dan diminta untuk memegang alat vital dan lain-lainnya yang tak bisa saya sebutkan,” sambungnya.

Endra mengatakan, hingga saat ini sudah ada 10 korban yang melaporkan tindakan menyimpang pelaku ke pihaknya.

“Kejadian ini berawal dari Oktober 2021 hingga Desember 2021. Akibat pencabulan ini, ada beberapa korban yang melapor. Sampai hari ini sudah melapor 10 korban dengan rentang usia 10-15, tapi kebanyakan 10 tahun, dan semuanya berjenis kelamin perempuan,” ujar Endra.

Lanjut Endra, saat ini pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah, di antaranya pemeriksaan sejumlah saksi dan korban, visum, hingga pendampingan melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestro Depok.

“Dari kejadian ini langkah-langkah yang telah dilakukan adalah melakukan visum, pemeriksaan saksi dan korban, kemudian melakukan pendampingan terhadap korban melalui Unit PPA Polres Metro Depok, kemudian juga pengungkapan kasus ini dengan menangkap pelakunya,” jelasnya.

Endra berujar, terhadap pelaku dijerat Pasal 76 Juncto 82 KUHP tentang perlindungan anak, dengan ancaman pidana penjara 15 tahun lamanya. “Atas perbuatan pelaku, penyidik menyangkakan pasal 76 juncto Pasal 82 KUHP tentang perlindungan anak, ancaman pidana paling sedikit lima tahun, dan paling lama 15 tahun dengan denda paling banyak Rp 5 miliar,” tukasnya. (LM-009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *