Bongkar Kelakuan Keji Herry Wirawan di Pesantren, Istri Syok Santriwatinya Hamil

Berita, Hukrim237 Dilihat

Laskarmedia.com, Medan–“Tahun 2018 itu ada salah satu anak yang bilang ke saya ‘Bu, saya belum haid’. Kata saya, coba minum ini. Saya enggak berpikiran macam-macam. Kalau dibilang bodoh ya terlalu polos, ya Allah,” ujar NA, istri HW.

Sama sekali tak curiga, NA kala itu mengira santriwatinya mengidap penyakit karena tidak datang bulan.

Kendati demikian, NA memang melihat perbedaan tubuh santriwatinya itu yang bertambah gemuk.

“Saya mulai curiga itu salah satu korban pertama, enggak haid. Dianya agak ketakutan, nangis, coba ke bidan, takut ada tumor. Katanya jarang olahraga, jadi lemaknya banyak,” aku NA.

Sadar sang istri curiga, Herry Wirawan pun segera bertindak. Herry langsung memindahkan santriwati yang sempat mengadu tidak haid ke NA itu ke gedung pesantren lain.

“Ketika anak yang mencurigakan, dipindahkan ke sinergi (tempat lain selain pesantren). Dia (Herry) bilang (ke istri) urus saja asrama yang di pesantren,” kata NA.

Tak tahu bahwa santriwati tersebut hamil, NA syok saat mendengar cerita bidan. Rupanya saat itu NA juga sedang mengandung anak kedua Herry Wirawan.

“Saya juga sedang hamil anak kedua. Jadi samaan kalau hamil. Pas saya diperiksa 8 bulan, diperiksa bidan yang sama, bidan itu yang bilang (bahwa santriwati hamil). Saya syok, nangis, dimulai dari saya hamil itu enggak diantar (sama Herry),” tukas NA.

Terkejut mengetahui santriwatinya hamil, NA langsung bertanya ke Herry Wirawan.

Saat itu Herry Wirawan tak mengakui perbuatannya dan menyebut santriwatinya hamil karena ‘kecelakaan’.

“Saya dibawa sama Herry ke atas. Saya nangis, jejeritan (bilang) ‘kenapa itu bisa hamil? Sama siapa? Saya enggak nuduh ke sana (ke Herry Wirawan)’. Dia (Herry) sumpah ke saya ‘enggak mungkin sama saya, kan saya guru’,” ujar NA.

Dihinggapi perasaan kalut, NA tak tahu harus berbuat apa. Terlebih santriwati yang hamil tersebut adalah sepupu kandung NA.

“Korban pertama itu sepupu saya. Gimana bilang ke orangtuanya, gimana perasaannya? Padahal saya itu sedang hamil. Kata Pak Herry ‘Kita urus aja sama-sama, soalnya ini anak hasil kecelakaan’. Saya sih terima aja,” ungkap NA.

Legowo, NA pun mau mengurus anak dari santriwati yang hamil tersebut. Sebab kala itu NA mengira bahwa anak yang diurusnya adalah saudaranya juga.

Namun belakangan NA baru mengetahui bahwa anak yang selama ini diurusnya bukanlah anak dari sepupunya. Anak tersebut adalah anak dari korban lain Herry Wirawan.

Ternyata di waktu yang hampir bersamaan, ada tiga santriwati yang melahirkan anak dari hasil kelakuan bejat Herry Wirawan.

“Sama sekali enggak tahu (kalau yang korban berikutnya). Ternyata anak yang saya urus, dianggap anak sepupu saya itu, itu bukan anaknya, tapi korban yang lain. Saya lahiran Februari akhir. Kalau sepupu saya itu Januari. Ada korban lain itu dua,” aku NA.

NA mengaku tak tahu-menahu soal pemerkosaan yang dilakukan Herry Wirawan. Karena NA baru tahu perbuatan suaminya usai Herry Wirawan ditangkap polisi beberapa bulan lalu.


Sidang Herry Wirawan

Ada dua saksi korban yang memberikan keterangan. Sidang dipimpin majelis hakim Yohannes Purnomo Suryo Ali, di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (21/12/2021). Sidang yang berlangsung sekitar tiga jam itu dilakukan tertutup.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat, Asep N Mulyana yang memantau dalam perkara ini mengatakan, dalam persidangan hanya ada dua saksi korban yang dimintai keterangan.

“Pada hari ini juga ada dua saksi yang hadir, satu hadir secara fisik, satu lagi memberi keterangan melalui video conference tadi,” ujar Asep N Mulyana, dikutip dari Tribun Jabar pada Rabu (22/12/2021).

Menurut Asep, dua keterangan saksi korban mendukung pembuktian bahwa Herry Wirawan melakukan tindakan pidana atau perbuatan melanggar hukum.

“Dari keterangan tersebut, mendukung pembuktian bahwa ada dugaan tindak pidana yang dilakukan HW (Herry Wirawan), dalam pengelolaan pesantren maupun di tempat pendidikan, dan yang dilakukan terdakwa adalah bagaimana dia melanggar UU perlindungan anak,” kata Asep N Mulyana.

Selain itu, jaksa juga menggali dugaan tindak pidana lain yakni penyelewengan dana bantuan sosial dari pemerintah yang diduga dilakukan Herry Wirawan.

“Sesuai yang disangkakan, kami tanyakan seluruhnya, termasuk tidak hanya kemudian perbuatan pidana pada anak-anak itu tapi juga termasuk penggunaan bansos,” imbuh Asep N Mulyana.

Kemudian, jaksa juga menanyakan terkait bagaimana metode pembelajaran, kurikulum hingga evaluasi yang diterapkan di lembaga pendidikan Herry Wirawan.

“Kami juga tanyakan tadi tentang metode pembelajaran ya, bagaimana mekanisme pembelajaran di sana dan bagaimana kurikulum dan tempat pendidikan di mana si terdakwa itu bernaung, kami tanyakan seluruhnya,” ucap Asep N Mulyana.

Sidang dengan terdakwa Herry Wirawan ini bakal kembali digelar pada Kamis 23 Desember 2021 di PN Bandung.

Sebelumnya, dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Herry dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP untuk dakwaan primernya.

Sedang dakwaan subsider, melanggar Pasal 81 ayat (2), ayat (3) jo Pasal 76.D UU R.I Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

“Terdakwa diancam pidana sesuai Pasal 81 Undang-undang Perlindungan Anak, ancamannya pidana 15 tahun. Namun, perlu digarisbawahi, ada pemberatan karena dia sebagai tenaga pendidik sehingga hukumannya menjadi 20 tahun,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jawa Barat Riyono. (LM-009)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *